One more time
Dinginnya pagi merasuk sampai ke tulangku. Malas rasanya untuk beranjak dari kasur ini, tapi apa boleh buat aku harus berkerja dari pagi sampai malam. Maklumlah berkerja jadi seorang kernet bus haruslah seperti itu. Menjadi seorang kernet bus bukanlah pilihan hidup bagi gadis berumur 20 tahun seperti aku. Biasanya gadis seumuranku sedang senang-senangnya menikmati hidup. Tapi tak apalah apa gunanya mengeluh, lebih baik berusaha keras untuk merubah nasib.
Hawa dingin yang menyeruak tadi pagi mulai tergantikan oleh hangatnya mentari. Terminal juga mulai ramai di datangi para penumpang. Riuh suara para kernet,pedagang kaki lima yang menjajakan makanan, dan suara knalpot bus. Oleh karenanya pagiku tak pernah sepi, namun hati ini masih sepi, tak ada yang mengisi. “Lho…?kok jadi mellow gini?haha….”gumamku dalam hati.
“Heni….!”teriak Rendra segera membuyarkan lamunanku.
“Heh,kalo manggil pelan2 napa, kaget tau…”jawabku ketus
“Ya maaf, tapi bus lo dah mo brangkat tuh,nglamun terus sih lo…”jawab Rendra
“Hah?knapa ngga’bilang dari tadi?”kata ku, sambil berlari mencari bus tumpuan hidupku
“Makanya kerja yang bener, jangan nglamun aja,dasar….”ujar Rendra
“Huh…capek,pagi2 udah lari, habis itu narik pula…beratnya hidupku”gerutu ku dalam hati
Cciiiiiiitttt….tiba-tiba bus berhenti, badanku terpental ke depan seketika. Ternyata bus ku menabrak seorang laki-laki, dia terluka cukup parah, darah berceceran dimana-mana. Kami panik,lalu segera turun untuk melihat lebih dekat. Kang Asep dengan sigap langsung memindahkan orang itu ke tepi jalan. Tapi ia segera menarikku
“Ayo pergi dari sini…!”.
“Tapi kang, bagaimana nasib orang ini?kita harus bertanggung jawab”tanyaku panik.
“Itu bukan salah kita,orang itu sudah tergeletak disana dari tadi
“Tapi kasihan orang ini, tidak ada yang menolongnya.”
Tiba-tiba tangan orang itu bergerak-gerak, dan matanya mulai terbuka. Tanpa piker panjang Kang Asep langsung menarikku masuk ke bus. Aku hanya pasrah , karena aku tahu, tidak mungkin kami membantu orang ini, hidup kami sudah sulit. Sepanjang perjalanan hari ini wajah orang itu, selalu terbayang. Aku merasa sangat bersalah.
Tiga bulan setelah kejadian itu…
“Uangnya mas?”kataku meminta uang ongkos bus
“ini mbak”kata laki-laki itu
Kuambil uang itu, lalu aku baru menyadari ternyata laki-laki ini adalah orang yang tertabrak waktu itu.”Tuhan, apakah orang ini masih mengenaliku?”. Pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepalaku. Aku mengamatinya diam-diam, aku takut karena dari tadi ia juga melihat ke arahku.
“Mbak…Apa sebelumnya kita saling mengenal ?”kata laki-laki itu
Jantungku berdegup kencang, darahku berdesir semakin cepat. Namun aku mencoba menjawab dengan tenang ,“Maaf mas, sepertinya anda salah orang”
“oh,maaf ya mbak sudah mengganggu” kata laki-laki itu
Keesokan harinya
Aku menjalani pekerjaanku seperti biasa. Hari ini terminal agak sepi, aneh sekali tak seperti biasanya. Padahal kantongku mulai menipis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar