Kamis, 04 Agustus 2011

One More Time

One more time

Dinginnya pagi merasuk sampai ke tulangku. Malas rasanya untuk beranjak dari kasur ini, tapi apa boleh buat aku harus berkerja dari pagi sampai malam. Maklumlah berkerja jadi seorang kernet bus haruslah seperti itu. Menjadi seorang kernet bus bukanlah pilihan hidup bagi gadis berumur 20 tahun seperti aku. Biasanya gadis seumuranku sedang senang-senangnya menikmati hidup. Tapi tak apalah apa gunanya mengeluh, lebih baik berusaha keras untuk merubah nasib.
 Hawa dingin yang menyeruak tadi pagi mulai tergantikan oleh hangatnya mentari. Terminal juga mulai ramai di datangi para penumpang. Riuh suara para kernet,pedagang kaki lima yang menjajakan makanan, dan suara knalpot bus. Oleh karenanya pagiku tak pernah sepi, namun hati ini masih sepi, tak ada yang mengisi. “Lho…?kok jadi mellow gini?haha….”gumamku dalam hati.
“Heni….!”teriak Rendra segera membuyarkan lamunanku.
“Heh,kalo manggil pelan2 napa, kaget tau…”jawabku ketus
“Ya maaf, tapi bus lo dah mo brangkat tuh,nglamun terus sih lo…”jawab Rendra
“Hah?knapa ngga’bilang dari tadi?”kata ku, sambil berlari mencari bus tumpuan hidupku
“Makanya kerja yang bener, jangan nglamun aja,dasar….”ujar Rendra
“Huh…capek,pagi2 udah lari, habis itu narik pula…beratnya hidupku”gerutu ku dalam hati
Cciiiiiiitttt….tiba-tiba bus berhenti, badanku terpental ke depan seketika. Ternyata bus ku menabrak seorang laki-laki, dia terluka cukup parah, darah berceceran dimana-mana. Kami panik,lalu segera turun untuk melihat lebih dekat. Kang Asep dengan sigap langsung memindahkan orang itu ke tepi jalan. Tapi ia segera menarikku
“Ayo pergi dari sini…!”.
“Tapi kang, bagaimana nasib orang ini?kita harus  bertanggung jawab”tanyaku panik.
“Itu bukan salah kita,orang itu sudah tergeletak disana dari tadi
“Tapi kasihan orang ini, tidak ada yang menolongnya.”
Tiba-tiba tangan orang itu bergerak-gerak, dan matanya mulai terbuka. Tanpa piker panjang Kang Asep langsung menarikku masuk ke bus. Aku hanya pasrah , karena aku tahu, tidak mungkin kami membantu orang ini, hidup kami sudah sulit. Sepanjang perjalanan hari ini wajah orang itu, selalu terbayang. Aku merasa sangat bersalah.

Tiga bulan setelah kejadian itu…

“Uangnya mas?”kataku meminta uang ongkos bus
“ini mbak”kata laki-laki itu
Kuambil uang itu, lalu aku baru menyadari ternyata laki-laki ini adalah orang yang tertabrak waktu itu.”Tuhan, apakah orang ini masih mengenaliku?”. Pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepalaku. Aku mengamatinya diam-diam, aku takut karena dari tadi ia juga melihat ke arahku.
“Mbak…Apa sebelumnya kita saling mengenal ?”kata laki-laki itu
Jantungku berdegup kencang, darahku berdesir semakin cepat. Namun aku mencoba menjawab dengan tenang ,“Maaf mas, sepertinya anda salah orang”
“oh,maaf ya mbak sudah mengganggu” kata laki-laki itu

Keesokan harinya

Aku menjalani pekerjaanku seperti biasa. Hari ini terminal agak sepi, aneh sekali tak seperti biasanya. Padahal kantongku mulai menipis.

Rabu, 03 Agustus 2011

Love Like The Onion Garlic

Love Like The Onion Garlic
Ehm……aroma harum menyeruak dari dalam dapur. Dengan cepat menyusup ke dalam kamarku. Ya aroma ini yang selalu membangunkanku di pagi hari. Aroma bawang goreng kesukaanku, tapi aku sangat membenci rasanya, karena begitu aku memakannya maka tubuhku langsung gatal dan panas tidak karuan. Yah, aku memang alergi dengan bawang goreng(alergi yang aneh).
“Heh…ayo cepat kamu harus berangkat pagi, ibu tidak bisa mengantarmu hari ini”kata Ibu
“Apa???”tanyaku kesal
“Makanya ayo cepat…”kata ibu
Dengan kesal terpaksa aku mandi dan makan dengan cepat. Jangan sampai aku telat lagi.
Sial…hari ini aku telat lagi, alhasil aku di hukum membersihkan toilet. Ampun deh sial banget si. Tepat pukul 07.45 hukumanku berakhir. Untung saja pelajaran matematika kosong. Aku berjalan santai menuju kelas.
Aku baru nyadar,kalo belum ngerjain tugas Fisika. Secepatnya aku mencontek tugas fisika dan mengumpulkannya.“Huft, akhirnya selesai juga”. Jam pelajaran matematika telah usai berganti dengan pelajaran PKN yang membosankan. Akhirnya waktu isirahat tiba, seperti biasa aku makan dan ngobrol di kantin. Sampai aku menyadari satu hal yang aneh. Aku merasa ada yang sedang memperhatikanku dari tadi. Aku menoleh dan ternyata Fandi lah yang dari tadi menatapku sambil tertawa lepas bercanda dengan Yayan. Aku hanya bisa diam dan merasa heran,”Kenapa Fandi menatapku seperti itu?memangnya ada yang aneh dariku?ah sudahlah mungkin itu hanya perasaanku saja”.
Bel tiga kali telah berbunyi tanda waktunya untuk pulang. Namun masih segar ingatanku tentang kejadian tadi, saat Fandi menatapku, aku merasa ada sesuatu yang aneh.
“Fan, jangan lupa tugasmu ya” kataku
“Oh…iya pasti”jawab Fandi
“Sip…” sahutku
“Linda, kamu udah ngumpulin tugas belum?”Tanya Dinda
“Tugas apa?”tanyaku
“Tugas matematika”jawab Dinda
“Ya ampun aku lupa,hehe…bentar ya aku kerjain dulu” kataku. Aku mengerjakan tugas matematika secepat mungkin.
“Ini udah selesai, thanks ya dah mau nunggu”kataku sambil menyerahkannya pada Dinda
“Oh iya, sama-sama”jawab Dinda
Aku dan Lasya berjalan keluar menuju gerbang sekolah yang sudah terbuka lebar.
“Nda, itu tadi yang namanya Fandi?tanya Lasya”
“Oh, iya memangnya kenapa?tanyaku heran
“Sepertinya dia punya perasaan lebih ke kamu”kata Lasya
“Ha??????jangan becanda ah”kataku heran
“Kelihatan jelas tahu, begitu kamu dateng perhatiannya langsung tertuju ke kamu. Kamu aja yang ngga kerasa” jelas Lasya
“Ha??????masa si???”tanyaku tak percaya
“Ya, buktikan saja sendiri”kata Lasya
Aku masih terheran-heran dengan kata-kata Lasya. Lasya itu perasa banget, dan itu jarang meleset. Seorang Fandi suka sama aku?bener-bener kenyataan yang sulit dipercaya. Dia itu konyol, jahil, cuek,dll. Terang aja aku ngga percaya perkataan Lasya.

To be Continued
............